
LATAR BELAKANG
Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.
Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :
A. Parahyangan :
B. Pawongan :
C. Palemahan :
D. Permasalahan lain :
TANTANGAN YANG DIHADAPI
Kita (masyarakat dan pemerintah – Bali) juga sangat prihatin terhadap tantangan yang sedang dan akan dihadapi Bali di waktu yang akan datang. Tantangan ini tidak ringan, kalau tidak pandai kita menanganinya, maka semakin berat beban yang ditanggung Bali. Mari kita cermati tantangan tsb :
APA AKAR PERMASALAHAN BALI
Permasalahan (fenomena, fakta) Bali yang saya uraikan di atas, cepat atau lambat akan dapat menjadikan derita (penderitaan umat) dan kehancuran Bali, sekaligus Hindu, bila kita tidak dapat menemukan solusinya yang tepat. Bali bukan lagi menjadi The island of paradise (pulau dewata), dll., Bali hanya tinggal kenangan. Saya tidak tahu pasti apakah akan terjadi 10 – 20 tahun yang akan datang ???
Pertanyaan : KENAPA MASALAH tersebut DI ATAS ITU DAPAT TERJADI ?.
Hasil analisis (kajian) dan dapat saya simpulkan sementara, sbb :
APA SOLUSINYA
Saya penawarkan solusi atas berbagai permasalahan yang saya urai di atas, adalah MEMBANGUN KEMBALI BUDAYA YADNYA (Dharma) di Bali, melalui 2 (dua model pendekatan terpadu dan program, sbb :
Pendekatan Pendidikan (Education)
1. Program Pendidikan Keagamaan sbb :
1.1. Pembentukan Kader – kader Pedharma Wacana yang unggul dalam jumlah dan kualitas, untuk menyebarluaskan pemahaman yang benar tentang hakekat Veda (BG) karena :
(a) Veda dinyatakan sebagai sumber pengetahuan kekal (The Eternal knowledge) dan sumber spirit untuk mencapai kehidupan bahagia
(b) Veda adalah sumber pemikiran dan dasar dari segala perbuatan benar Artinya : Pikiran dan perbuatan manusia yang benar, penuh kasih sayang, bakti, penuh ketulusan, ikhlas, siap berkorban menolong sesama, kalau bersumber dari Veda
(c) Veda adalah sumber utama Yadnya. Yadnya, disebut sebagai representasi paling utama dari perbuatan manusia Hindu khususnya
(d) Yadnya dan Veda merupakan dua fondasi utama yang bersifat integral dari Budaya Veda (Vedic culture). Budaya Bali adalah budaya Hindú atau budaya Yadnya (Dharma) yang bersumber dari Veda
(e) Meningkatkan pemahaman Srada yang sesungguhnya dan sebar luaskan nilai nilai keyakinan yang ada dalam Veda (BG). Dalam The Vedic Study Studi tentang Veda, (Satyakam Varma, 1984) disebutkan sbb : “It’s a sacred duty of all the Vedic adherents to study and teach as well as to listen and to talk about Veda” (Adalah kwajiban suci bagi setiap pengikut Veda untuk mempelajari dan mewacanakan Veda….).
Bagaimana kita mau menyebarkan nilai (kebenaran Brahman), kepada orang lain, kalau kita sendiri tidak memahami ajaran agama kita ?.
1.2. Mendirikan Pusat Studi Veda (BG) di tiap Kabupaten dan Kota di Bali, untuk :
Fungsinya, adalah membentuk dan menghasilkan manusia Hindhu baru pengikut Veda (Vedic adherent, or followers) untuk semua tingkatan (umur) menuju kejayaan Hindu masa depan di Bali dan luar Bali. Kader-kader ini diharapkan dapat menjadi panutan (pikiran, perkataan dan perbuatan)
1.3. Me-review dan merivitalisasi hakekat berbagai ritual dan Samskara agar dapat memeri manfaat bagikehidupan manusia dan alamnya, dengan mengkaji aspek :
(a) Harus bersumber dari Weda sebagai sumber pengetahuan kebenaran absolute (disebut juga sebagai pengetahuan suci sehingga kebenarannya tidak tergantung dari fungsi waktu dan tempat) tentang ilmu kehidupan (The science of being) dan etika kehidupan (The art of living)
a.1. Penerapannya disesuaikan dengan adat setempat (desa kala patra). Namun jangan sampai adat (alat) yang mendominasi tujuan
a.2. Penerapannya harus mengacu pada hakekat, bukan kehendak (nafsu), sehingga tidak menimbulkan iri dan dengki (gejolak sosial)
2. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
Meningkatkan (mempercepat) Program Pemberantasan Buta Aksara sesuai dengan Inpres No.5 Tahun 2006, baik untuk (a) pendidikan Keaksaran dasar dan (b) pendidikan keaksaraan lanjut. Data menunjukkan bali masih termasuk daerah merah (penyandang Buta Aksara >5%). Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan PKK di tingkat desa (dusun, banjar) melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Sumber dana dan program berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota.
Pendekatan Ekonomi
1. Sasaran
Pendekatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan program dan sasaran yang jelas (prioritas) yaitu :
(a) keluarga atau rumah tangga miskin
(b) keluarga berpengasilan rendah dan
(c) kelompok masyarakat yang paling rentan dari akibat tekanan ekonomi. (the most vulnerable society)
2. Program (Skema Pemberdayaan)
Usaha-usaha (pemberdayaan) ini dapat dilakukan melalui program-program dan kelembagaan sbb :
2.1. Pengembangan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ditingkat Banjar
2.2. Meningkatkan Program Nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM), melalui kelompok – kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan (khusus Perguruan tinggi)
2.3. Menggalakkan usaha perkoperasian dengan sasaran keluarga miskin
2.4. Meningkatkan peran sektor perbankan untuk mengucurkan pendanaan (kridit lunak) untuk UMKM dan PNPM
2.5. Meningkatkan keterlibatan keluarga miskin dalam program pemberdayaan kecamatan dan desa (kelurahan)
2.6. Meningkatkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) melalui kader-kader pembangunan desa (kelurahan)
2.7. Pembangunan sentra – sentra ekonomi di pedesaan untuk pembangunan pedesaan, mengeliminasi kemiskinan, mencegah urbanisasi.
2.8. dll.
3. Pendekatan Kebijakan Pemerintah
Pemerintah Bali (TK I dan II) seharusnya dapat menata kehidupan masyarakat yang lebih baik, sesuai tradisi Bali (mempertahankan budaya, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Hal ini dapatdilkukan dengan mengatur :
3.1. Perizinan tempat tinggal
3.2. Pembatasan masuknya penduduk luar Bali yang tidak memiliki tempat tinggal jelas dan pekerjaan jelas, agar tidak menjadi beban pemerintah.
3.3. Perizinan banungan (tidak menggunakan lahan-lahan produktif dan atau lingkungan yang disucikan)
3.4. Kerjasama dengan sektor per-bankan, agar dapat membantu sektor UMKM, home industri di pedesaan yang melibatkan tenaga kerja orang-orang Bali
3.5. Mendirikan lembaga pelatihan kewirausahaan
3.6. Mendirikan perbankan khusus untuk umat Hindhu, sesuai ajaran Dharma
3.7. dll.
4. Pendekatan Partisipatif
Pendekatan partisipatif, adalah keterlibatan masyarakat secara luas di tingkat desa (banjar), desa sd. Kecamatan., melibatkan tokoh formal dan informal. Masyarakat adalah pelaku (subject sekaligus object) program, sekaligus sebagai pengontol (monev) pelaksanaan serta peningkmat hasil program. Bimbingan pemerintah (dinas terkait) dan lembaga independen lain termasuk perguruan tinggi, akan menentukan arah dan keberhasilan program.
Perlu dibentuk suatu Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) yang menyangkut berbagai aspek kehidupan di tingkat Kecamatan dan Desa. Peran pemerintah, adalah memfasilitasi kegiatan program.
PENUTUP
Secara ringkas saya sampaikan, bahwa permasalahan Bali (Umat dan lingkungannya) disebabkan karena lemahnya (terbatas) pengetahuan (philosofi) sebagai sumber dari segala sumber : pemikiran dan perbuatan. Dengan meningkatkan pengetahuan akan tumbuh kesucian hati dan pikiran, meningkatnya kesadaran dan kecerdasan umat. Muaranya, adalah perbuatan yang baik (Yadnya, Dharma) dan kahirnya dicapai kebahagian hidup.
Integrasi pendekatan pendidikan, ekonomi dan dibarengi dengan kebijkan pemerintah yang berpihak kepada umat, serta keterlibatan masyarakat (sebagai object sekaligus sebagai subject) secara terpadu (integrated approaches) akan dapat mempertahankan Bali (umat Hindhu khususnya) dari keterpurukan dan tereliminasi dari persaingan kehidupan yang semaikin berat dimasa datang. Kesadaran dan kepedulian serta kerja keras secara tulus (sesuai ajran Dharma—melayani–) tokoh umat, pengurus PHDI, Perguruan Tinggi dan siapa saja, kepada umat Hindhu akan dapat menolong menyelamatkan Bali.
Demikian yang dapat saya usulkan untuk bahan renungan dalam Pesamuan Agung PHDI di Bali dan Lembaga kajian strategis ajeg Bali, Kita semua mengharapkan agar Bali (umat Hindu) dapat menjadi tuan yang baik di negerinya sendiri (Home land). Semoga Bali menjadi sejahtera, bahagia dan dinamis. Om Canti-Canti-Canti Om.
Penulis :
Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM
(Dosen FKH – Unair)