INTERNALISASI DHARMA (Yadnya) JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN ABADI

LATAR BELAKANG
 
Kita, khususnya masyarakat Hindu di Jawa Timur sangat sedih dan prihatin mengamati berbagai fenomena yang terjadi di Bali. Bali bukan lagi Bali yang dulu lagi, yang dahulu indah alamnya, dan lestari budayanya, damai (canti) dan toleran masyarakatnya, dll. Alam dan manusia seolah sangat erat bersahabat, dan kejujuran (satyam) terpancar dari gerak dan tingkah laku tutur kata kehidupan masyaraknya.
Namun Bali kini sedang diselimuti berbagai masalah, tantangan sangat komplek, sehingga seolah sukar diurai ujung pangkalnya. Mari perhatikan hal-hal berikut :

 
A.   Parahyangan :

  1. Banyak sudah umat kita yang secara sadar telah meninggalkan keyakinannya. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan menyedihkan (Kenapa???)
  2. Beberapa tempat ibadah (pure) sudah tidak terurus dan ada yang digusur
  3. Sementara umat yang ada di luar Bali sangat sulit untuk membangun rumah ibadah
  4. Rumah ibadah non-Hindu semakin banyak

 
B.   Pawongan :

  1. Terjadi kesenjangan ekonomi, antar daerah dan wilayah (utara – selatan)
  2. Rendahnya tingkat partisipasi pendidikan, khususnya di pedesaan dan umumnya perempuan.
  3. Angka penyandang buta aksara >5% (Direktoran Pendidikan Luas Sekolah, 2007)
  4. Kantong – kantong kemiskinan meningkat di semua kabupaten dan kota (data Bali Post 12 Juli 2006)
  5. Umat tidak sepenuhnya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, sector - sector ekonomi (usaha) tidak dikuasai oleh umat. Umat kebanyakan hanya sebagai pembantu (pramu saji, pramu wisma, pramu niaga, sopir taksi, tukang, buruh, tenaga upahan lain) di negeri sendiri, baik pada sector informal dan formal
  6. Meski Bali mengandalkan (dominasi) sector pariwisata, namun yang menikmati bukan umat kebanyakan. Umat kebanyakan bukan menjadi pemain utama, sebagain umat hanya jadi penenton dan tetap miskin dan terbelakang
  7. Pengangguran juga meningkat, karena semakin sulit dan terbatasnya lapangan kerja (termasuk pengangguran tenaga terdidik)
  8. Kriminalitas (pencurian) bermotif ekonomi juga meningkat deras terutama di kota-kota, dan khusus pada momen (bulan) tertentu. Misal menjelang Hari Raya Tertentu.

 
C.  Palemahan :

  1. Lingkungan (ekosistem) Bali sudah banyak rusak, seperti pantai banyak tergusur, dataran banyak yang sudah bepeng-bopeng, sehingga Bali seolah –olah menjadi lebih sempit
  2. Kawasan hutan juga banyak rusak, karena adanya perambah liar
  3. Konversi lahan pertanian (sawah dan tegalan) menjadi kawasan perumahan dan industri. Bukankah ini akan membuat semakin terkurasnya sumberdaya alam (SDA) Bali ?
  4. Banjir dan tanah longsor yang terjadi baru-baru ini, adalah indikasi kuat rusaknya ekosistem di Bali.

 
D.  Permasalahan lain :

  1. Masalah sosial yang semakin meningkat, seperti banyak komplik, kekerasan antar banjar, bahkan komplik dalam keluarga (saudara) sering kita dengar (komplik sesama orang Bali, moral hazard)
  2. Meningkatnya jumlah orang yang menggunakan obat psikotropika (narkoba)
  3. Kehidupan bebas, materialistik, egoistik semakin terasa, serta semakin jauh dari nilai humanism
  4. Kehidupan sek bebas juga  semakin terbuka, dll., termasuk adanya lokasi PSK.
  5. Permasalahan struktur sosial (kasta) juga menjadi isu yang belum selesai. Hal ini sekaligus menunjukkan masih adanya keangkuhan sosial
  6. Komplik antar lembaga pembina agama, juga belum terselesaikan
  7. Bali belum bebas dari ancaman terorisme, dll

 
TANTANGAN YANG DIHADAPI
 
Kita (masyarakat dan pemerintah – Bali) juga sangat prihatin terhadap tantangan yang sedang dan akan dihadapi Bali di waktu yang akan datang. Tantangan ini tidak ringan, kalau tidak pandai kita menanganinya, maka semakin berat beban yang ditanggung Bali. Mari kita cermati tantangan tsb :

  • Meningkatnya jumlah penduduk, khususnya pendatang, baik mereka yang punya skill dan yang tanpa skill (pengangguran). Sementara orang Bali yang miskin disingkirkan (transmigrasi) ke berbagai daerah terpencil di luar Bali dan mereka tidak terurus sama sekali, bagai anak ayam kehilangan induknya (saya mengamati sendiri hal ini di suatu desa di Kota Mobagu, Sulut)
  • Penetrasi budaya asing, melalui torisme, investror, dll., sekaligus dengan life style-nya (materialistik, egoistik) yang berbeda dengan budaya Bali
  • Perkembangan lembaga-lembaga keagamaan (pusat studi Injil, lembaga dakwah, Sufi, kelompok pengajian, dll). Hal tsb dapat memperkaya khasanah budaya Bali (lebih plurar), atau sekaligus jug dapat menghancurkan nilai-nilai budaya tradisional yang kita junjung tinggi, termasuk keyakinan kita, dll.
  • Semakin meningkatnya populasi non – Bali dan semakin sempaitnya ruang (space) bagi kehidupan masyarakat, terbatasnya sumber daya alam, dll.

 
APA AKAR PERMASALAHAN  BALI
 
Permasalahan  (fenomena, fakta) Bali yang saya uraikan di atas, cepat atau lambat akan dapat menjadikan derita (penderitaan umat) dan kehancuran Bali, sekaligus Hindu, bila kita tidak dapat menemukan solusinya yang tepat. Bali bukan lagi menjadi The island of paradise (pulau dewata), dll., Bali hanya tinggal kenangan. Saya tidak tahu pasti apakah akan terjadi 10 – 20 tahun yang akan datang ???
Pertanyaan : KENAPA MASALAH tersebut DI ATAS  ITU DAPAT TERJADI ?.
Hasil analisis (kajian)  dan dapat saya simpulkan sementara, sbb :

  • Lemahnya kesadaran Shrada kita. Hasil analisis saya (mengambil sampel di beberapa daerah), mereka tidak memahami keyakinannya sendiri (filosofi). Apa makna atau hakekat keyakinan Shrada tsb. Dalam Bahasa Bhagavad Githa (BG) disebut sebagai The Science of being (Ilmu Pembebasan manusia dari segala keterikatan dan kebodohan, Shrada adalah sepirit untuk bangkit, untuk bekerja keras, untuk pengabdian, mencapai kebahagian abadi untuk semua kehidupan). Mereka juga sangat minim pengetahuannya terhadap tata kerama (etika, karma) kehidupan yang dalam bahasa BG disebut sebagai The art of living. Hal ini bersumber karena kelemahan Shrada (point 1)
  • Praktek keagamaan yang disebut dengan ritual (dengan konsep panca Yadnya) sangat marak, namun Yadnya diartikan dalam dimensi upacara saja bhakti ke YME, yang sempit tanpa makna universal (hakekat kehidupan, the nature of life) sebagai hakekat (esensi) agama itu sebenarnya. Yadnya yang demikian tidak optimal dalam meningkatkan kualitas hidup manusia (fisikal dan spiritual) dan memelihara kelestarian alam Bali
  • Ketidak seimbangan praktek Yadnya vertical (upacara, dengan cost yang berlimpah) dengan praktek Yadnya horizontal (membangun nilai – nilai kemanusiaan, membangun harkat dan martabat manusia dan seluruh kehidupan)
  • Kepedulian Pemerintah Bali terhadap umat, misleading, tidak tepat sasaran, tidak tepat pada akar maslahnya, termasuk kepedulian terhadap umat Hindu di luar Bali.
  • Konsep pembangunan (perizinan) pemerintah tidak sepenuhnya berpihak kepada orang Bali dan atau umat Hindu, terutama dalam kaitannya dengan membangun keajegan Bali. Pemerintah cenderung lebih banyak mengejar keuntungan sementara melalui peningkatan PAD, tanpa peduli akibatnya di masa depan (pembangunan hotel, resort, pemungkinan, industri, dll), dengan menggusur lahan pertanian, kawasan hutan, wilayah suci, dll. Sementara izin pembangunan tempat ibadah non- Hindhu marak.

 
APA SOLUSINYA
 
Saya penawarkan solusi atas berbagai permasalahan yang saya urai di atas, adalah  MEMBANGUN KEMBALI BUDAYA YADNYA (Dharma) di Bali, melalui 2 (dua model pendekatan terpadu dan program, sbb :
 
Pendekatan Pendidikan (Education)
 
1. Program Pendidikan Keagamaan sbb :
 
1.1. Pembentukan Kader – kader Pedharma Wacana yang unggul dalam jumlah dan kualitas, untuk menyebarluaskan pemahaman yang benar tentang hakekat Veda (BG) karena :
 
(a)   Veda dinyatakan sebagai sumber pengetahuan  kekal (The Eternal knowledge) dan sumber spirit untuk mencapai kehidupan bahagia
(b)  Veda adalah sumber  pemikiran dan dasar dari segala perbuatan benar Artinya : Pikiran dan perbuatan manusia yang benar, penuh kasih sayang, bakti, penuh ketulusan, ikhlas, siap berkorban menolong sesama, kalau bersumber dari Veda
(c)   Veda adalah sumber utama Yadnya. Yadnya, disebut sebagai representasi paling utama dari perbuatan manusia Hindu khususnya
(d)  Yadnya dan Veda merupakan dua fondasi utama yang bersifat integral dari Budaya Veda (Vedic culture). Budaya Bali adalah budaya Hindú atau budaya Yadnya (Dharma) yang bersumber dari Veda
(e)   Meningkatkan pemahaman Srada yang sesungguhnya dan sebar luaskan nilai nilai keyakinan yang ada dalam Veda (BG). Dalam The Vedic Study Studi tentang Veda, (Satyakam Varma, 1984) disebutkan sbb : “It’s a sacred duty of all the Vedic adherents to study and teach as well as to listen and to talk about Veda” (Adalah kwajiban suci bagi setiap pengikut Veda untuk mempelajari dan mewacanakan Veda….).
Bagaimana kita mau menyebarkan nilai (kebenaran Brahman), kepada orang lain, kalau kita sendiri tidak memahami ajaran agama kita ?.
 
1.2. Mendirikan Pusat Studi Veda (BG) di tiap Kabupaten dan Kota di Bali, untuk :

  • Tingkat Dasar (Primary)
  • Tingkat Menengah (Intermediate)
  • Tingkat Maju (Advance)

Fungsinya, adalah membentuk dan menghasilkan manusia Hindhu baru pengikut Veda (Vedic adherent, or followers) untuk semua tingkatan (umur) menuju kejayaan Hindu masa depan di Bali dan luar Bali. Kader-kader ini diharapkan dapat menjadi panutan (pikiran, perkataan dan perbuatan)
 
1.3. Me-review dan merivitalisasi hakekat berbagai ritual dan Samskara agar dapat memeri manfaat bagikehidupan manusia dan alamnya, dengan mengkaji aspek :
 
(a)  Harus bersumber dari Weda sebagai sumber pengetahuan kebenaran absolute (disebut juga sebagai pengetahuan suci sehingga kebenarannya tidak tergantung dari fungsi waktu dan tempat) tentang ilmu kehidupan (The science of being) dan etika kehidupan (The art of living)
a.1. Penerapannya disesuaikan dengan adat setempat (desa kala patra). Namun jangan sampai adat (alat) yang mendominasi tujuan
a.2. Penerapannya harus mengacu pada hakekat, bukan kehendak (nafsu), sehingga tidak menimbulkan iri dan dengki (gejolak sosial)
 
2. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
 
Meningkatkan (mempercepat) Program Pemberantasan Buta Aksara sesuai dengan Inpres No.5 Tahun 2006, baik untuk (a) pendidikan Keaksaran dasar dan (b) pendidikan keaksaraan lanjut. Data menunjukkan bali masih termasuk daerah merah (penyandang Buta Aksara >5%). Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan PKK di tingkat desa (dusun, banjar) melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Sumber dana dan program berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota.
 
Pendekatan Ekonomi
 
1. Sasaran
Pendekatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan program dan sasaran yang jelas (prioritas)  yaitu :
(a) keluarga atau rumah tangga miskin
(b) keluarga berpengasilan rendah dan
(c) kelompok masyarakat yang paling rentan dari akibat tekanan ekonomi. (the most vulnerable society)
 
 2. Program (Skema Pemberdayaan)
 
Usaha-usaha (pemberdayaan) ini dapat dilakukan melalui program-program dan kelembagaan sbb :
2.1. Pengembangan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ditingkat Banjar
2.2. Meningkatkan Program Nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM),  melalui kelompok – kelompok masyarakat dan lembaga pendidikan (khusus Perguruan tinggi)
2.3. Menggalakkan usaha perkoperasian dengan sasaran keluarga miskin
2.4. Meningkatkan peran sektor perbankan untuk mengucurkan pendanaan (kridit lunak) untuk UMKM dan PNPM
2.5. Meningkatkan keterlibatan keluarga miskin dalam program pemberdayaan kecamatan dan desa (kelurahan)
2.6. Meningkatkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) melalui kader-kader pembangunan desa (kelurahan)
2.7. Pembangunan sentra – sentra ekonomi di pedesaan untuk pembangunan pedesaan, mengeliminasi kemiskinan, mencegah urbanisasi.
 2.8.  dll.
 
3. Pendekatan Kebijakan Pemerintah
 
Pemerintah Bali (TK I dan II) seharusnya  dapat menata kehidupan masyarakat yang lebih baik, sesuai tradisi Bali (mempertahankan budaya, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Hal ini dapatdilkukan dengan mengatur :
3.1. Perizinan tempat tinggal
3.2. Pembatasan masuknya penduduk luar Bali yang tidak memiliki tempat tinggal jelas dan pekerjaan jelas, agar tidak menjadi beban pemerintah.
3.3. Perizinan banungan (tidak menggunakan lahan-lahan produktif dan atau lingkungan yang disucikan)
3.4. Kerjasama dengan sektor per-bankan, agar dapat membantu sektor UMKM, home industri di pedesaan yang melibatkan tenaga kerja orang-orang Bali
3.5. Mendirikan lembaga pelatihan kewirausahaan
3.6. Mendirikan perbankan khusus untuk umat Hindhu, sesuai ajaran Dharma
3.7. dll.
 
4. Pendekatan Partisipatif
Pendekatan partisipatif, adalah keterlibatan masyarakat secara luas di tingkat desa (banjar), desa sd. Kecamatan., melibatkan tokoh formal dan informal. Masyarakat adalah pelaku (subject sekaligus object) program, sekaligus sebagai pengontol (monev) pelaksanaan serta peningkmat hasil program. Bimbingan pemerintah (dinas terkait) dan lembaga independen lain termasuk perguruan tinggi, akan menentukan arah dan keberhasilan program.
Perlu dibentuk suatu Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) yang menyangkut berbagai aspek kehidupan di tingkat Kecamatan dan Desa. Peran pemerintah, adalah memfasilitasi kegiatan program.
 
 
PENUTUP
 
Secara ringkas saya sampaikan, bahwa permasalahan Bali (Umat dan lingkungannya) disebabkan karena lemahnya (terbatas) pengetahuan (philosofi) sebagai sumber dari segala sumber : pemikiran dan perbuatan. Dengan meningkatkan pengetahuan akan tumbuh kesucian hati dan pikiran, meningkatnya kesadaran dan kecerdasan umat. Muaranya, adalah perbuatan yang baik (Yadnya, Dharma) dan kahirnya dicapai kebahagian hidup.
Integrasi pendekatan pendidikan, ekonomi dan dibarengi dengan kebijkan pemerintah yang berpihak kepada umat, serta keterlibatan masyarakat (sebagai object sekaligus sebagai subject) secara terpadu (integrated approaches) akan dapat mempertahankan Bali (umat Hindhu khususnya) dari keterpurukan dan tereliminasi dari persaingan kehidupan yang semaikin berat dimasa datang. Kesadaran dan kepedulian serta kerja keras secara tulus (sesuai ajran Dharma—melayani–) tokoh umat, pengurus PHDI, Perguruan Tinggi dan siapa saja, kepada umat Hindhu akan dapat menolong menyelamatkan Bali.
 
Demikian yang dapat saya usulkan untuk bahan renungan dalam Pesamuan Agung PHDI di Bali dan Lembaga kajian strategis ajeg Bali, Kita semua mengharapkan agar Bali (umat Hindu) dapat menjadi tuan yang baik di negerinya sendiri (Home land). Semoga Bali menjadi sejahtera, bahagia dan dinamis. Om Canti-Canti-Canti Om.
 
 
Penulis :
Dr IGK Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc., DVM

(Dosen FKH – Unair)